Doomscrolling menjadi masalah kesehatan mental modern di 2026 karena kebiasaan konsumsi informasi negatif berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, dan kelelahan mental.
Pendahuluan
Di era digital modern, manusia hampir tidak pernah lepas dari smartphone. Bangun tidur membuka media sosial, bekerja sambil mengecek notifikasi, hingga sebelum tidur masih scrolling video dan berita terbaru.
Awalnya kebiasaan tersebut terasa normal.
Namun tanpa disadari, banyak orang mulai terjebak dalam perilaku bernama doomscrolling.
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif atau memicu kecemasan melalui media sosial dan internet, bahkan ketika aktivitas tersebut membuat mental semakin lelah.
Fenomena ini semakin umum di tahun 2026 karena dunia digital modern dipenuhi:
- Berita viral
- Konten emosional
- Konflik online
- Informasi mengejutkan
- Algoritma media sosial yang membuat pengguna terus scrolling
Akibatnya banyak orang merasa:
- Sulit berhenti membuka media sosial
- Overthinking setelah scrolling
- Cemas berlebihan
- Mental cepat lelah
- Mood memburuk tanpa sadar
Menariknya, banyak orang tetap terus scrolling walaupun mereka tahu konten tersebut membuat stres.
Lalu apa sebenarnya doomscrolling? Mengapa kebiasaan ini sulit dihentikan? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan mental modern?
Berikut pembahasan lengkapnya.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir atau scrolling konten negatif secara berlebihan di internet dan media sosial.
Konten tersebut bisa berupa:
- Berita buruk
- Konflik sosial
- Drama online
- Informasi mengkhawatirkan
- Konten emosional
- Video yang memicu kecemasan
Walaupun membuat stres, seseorang tetap terdorong untuk terus melihat informasi berikutnya.
Mengapa Doomscrolling Semakin Umum di 2026?
Ada beberapa alasan utama mengapa fenomena ini meningkat drastis.
1. Media Sosial Dirancang agar Pengguna Terus Scroll
Platform digital modern menggunakan algoritma yang membuat pengguna terus bertahan lebih lama.
Konten yang memicu emosi kuat biasanya:
- Lebih menarik perhatian
- Lebih sering diklik
- Lebih mudah viral
Akibatnya pengguna terus menerima stimulasi emosional tanpa henti.
2. Manusia Secara Alami Sensitif terhadap Informasi Negatif
Otak manusia memiliki negativity bias.
Artinya otak cenderung lebih fokus pada:
- Ancaman
- Konflik
- Informasi negatif
- Hal mengejutkan
Karena dulu kemampuan mengenali ancaman membantu manusia bertahan hidup.
3. Overstimulasi Digital Modern
Setiap hari manusia menerima:
- Berita nonstop
- Video pendek
- Konten viral
- Informasi emosional
Otak akhirnya kesulitan beristirahat dari stimulasi tersebut.
Mengapa Orang Tetap Scroll Walaupun Stres?
Doomscrolling bekerja seperti loop psikologis.
Seseorang merasa:
- Ingin tahu informasi terbaru
- Takut tertinggal berita
- Mencari kepastian
- Penasaran dengan update berikutnya
Namun semakin lama scrolling, semakin banyak informasi yang memicu kecemasan.
Hubungan Doomscrolling dan Kesehatan Mental
Konsumsi informasi negatif berlebihan dapat memengaruhi:
- Mood
- Tingkat stres
- Fokus
- Kualitas tidur
- Keseimbangan emosional
Karena otak terus berada dalam kondisi siaga terhadap informasi mengkhawatirkan.
Doomscrolling dan Kecemasan Modern
Banyak orang modern mengalami:
- Overthinking
- Anxiety
- Mental fatigue
- Sulit rileks
Paparan informasi negatif terus-menerus dapat memperkuat kondisi tersebut.
Karena otak sulit membedakan ancaman digital dan ancaman nyata secara emosional.
Mengapa Doomscrolling Sangat Sulit Dihentikan?
Media sosial dirancang menggunakan sistem reward psikologis.
Setiap refresh feed memberi kemungkinan menemukan:
- Informasi baru
- Konten mengejutkan
- Update viral
Sistem ini membuat otak terus penasaran dan sulit berhenti scrolling.
Doomscrolling dan FOMO
Fenomena ini juga berkaitan dengan FOMO atau fear of missing out.
Banyak orang takut:
- Ketinggalan berita penting
- Tidak tahu tren terbaru
- Melewatkan informasi viral
Akibatnya mereka terus membuka media sosial walaupun sudah merasa lelah.
Tanda-Tanda Doomscrolling
Beberapa tanda umum antara lain:
- Scroll media sosial terlalu lama
- Sulit berhenti melihat berita negatif
- Mood memburuk setelah online
- Merasa cemas setelah membaca konten tertentu
- Tetap scrolling walaupun sudah lelah
Kebiasaan ini sering terjadi tanpa disadari.
Mengapa Doomscrolling Membuat Mental Cepat Lelah?
Otak manusia tidak dirancang menerima informasi emosional tanpa jeda sepanjang hari.
Saat terus melihat:
- Konflik
- Drama
- Berita mengejutkan
- Konten marah
Otak tetap aktif memproses emosi tersebut.
Akibatnya energi mental cepat terkuras.
Doomscrolling dan Kualitas Tidur
Banyak orang melakukan doomscrolling sebelum tidur.
Padahal aktivitas ini dapat:
- Membuat otak tetap aktif
- Memicu kecemasan
- Mengganggu relaksasi
- Menurunkan kualitas tidur
Karena itu banyak ahli menyarankan mengurangi media sosial menjelang tidur.
Mengapa Video Pendek Memperparah Doomscrolling?
Konten video pendek membuat konsumsi informasi menjadi sangat cepat.
Pengguna dapat melihat puluhan bahkan ratusan konten emosional dalam waktu singkat.
Akibatnya otak menerima overstimulasi yang jauh lebih besar dibanding media tradisional.
Doomscrolling dan Burnout Digital
Burnout digital terjadi ketika otak terlalu lama menerima stimulasi online tanpa recovery cukup.
Gejalanya bisa berupa:
- Sulit fokus
- Cepat lelah mental
- Emosi tidak stabil
- Kehilangan motivasi
Doomscrolling menjadi salah satu penyebab yang semakin umum di era modern.
Mengapa Berita Negatif Lebih Mudah Viral?
Secara psikologis, manusia lebih mudah tertarik pada:
- Konflik
- Bahaya
- Drama
- Kontroversi
Karena emosi kuat meningkatkan perhatian dan interaksi pengguna.
Algoritma media sosial kemudian memperkuat pola tersebut.
Doomscrolling dan Attention Span
Kebiasaan scrolling nonstop juga dapat memengaruhi kemampuan fokus.
Otak menjadi terbiasa:
- Berpindah cepat antar konten
- Mencari stimulasi baru terus-menerus
- Sulit fokus lama
Akibatnya attention span semakin pendek.
Mengapa Banyak Orang Tidak Sadar Mereka Doomscrolling?
Karena aktivitas ini terasa “normal” di era digital.
Seseorang bisa mulai hanya ingin:
- Mengecek berita sebentar
- Membuka media sosial beberapa menit
Namun akhirnya terus scrolling selama berjam-jam tanpa sadar.
Apakah Doomscrolling Hanya Terjadi di Media Sosial?
Tidak.
Fenomena ini juga bisa terjadi saat:
- Membaca forum online
- Menonton berita nonstop
- Membuka komentar internet
- Mengikuti drama digital
Intinya adalah konsumsi informasi negatif berlebihan tanpa kontrol sehat.
Cara Mengurangi Doomscrolling
Batasi Waktu Media Sosial
Gunakan screen time atau timer aplikasi jika perlu.
Hindari Scroll Sebelum Tidur
Berikan waktu relaksasi tanpa layar digital.
Pilih Konten Lebih Sehat
Kurangi konsumsi akun yang terlalu memicu stres atau emosi negatif.
Ambil Waktu Offline
Berjalan santai, membaca buku, atau olahraga ringan membantu otak recovery.
Sadari Pola Scroll Berlebihan
Kesadaran menjadi langkah awal paling penting.
Digital Wellness dan Kehidupan Modern
Digital wellness adalah konsep menjaga hubungan sehat dengan teknologi.
Karena teknologi modern:
- Sangat adiktif
- Selalu tersedia
- Penuh stimulasi emosional
Maka manusia perlu belajar mengatur konsumsi digital secara sadar.
Mengapa Otak Membutuhkan Quiet Time?
Quiet time atau waktu tenang tanpa stimulasi penting untuk:
- Recovery mental
- Menurunkan stres
- Menstabilkan emosi
- Memulihkan fokus
Tanpa jeda, otak terus bekerja memproses informasi digital.
Doomscrolling dan Generasi Modern
Generasi sekarang tumbuh dalam lingkungan:
- Internet cepat
- Informasi tanpa batas
- Media sosial nonstop
- Konten real-time
Akibatnya risiko overstimulasi mental jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Apakah Semua Media Sosial Buruk?
Tidak.
Media sosial tetap memiliki manfaat seperti:
- Komunikasi
- Edukasi
- Hiburan
- Komunitas positif
Masalah muncul ketika penggunaan menjadi tidak seimbang dan berlebihan.
Mengapa Kesadaran Digital Balance Semakin Penting?
Karena kesehatan mental modern kini sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi digital sehari-hari.
Bukan hanya apa yang dimakan tubuh, tetapi juga apa yang “dikonsumsi” oleh pikiran melalui layar digital.
Kesimpulan
Doomscrolling kesehatan mental menjadi salah satu tantangan besar kehidupan modern di tahun 2026.
Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif ternyata dapat memengaruhi mood, fokus, kualitas tidur, hingga keseimbangan emosional secara keseluruhan.
Di era media sosial dan algoritma digital yang dirancang membuat manusia terus scrolling, kesadaran untuk menjaga digital wellness menjadi semakin penting.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti harus sepenuhnya meninggalkan internet, tetapi belajar menggunakan teknologi secara lebih sadar dan seimbang.
Karena pada akhirnya, pikiran manusia juga membutuhkan ruang tenang agar tetap sehat di tengah banjir informasi digital yang tidak pernah berhenti.